Friday, February 27, 2009

EAGLES NEST MINISTRIES 2009


EAGLES NEST MINISTRIES 2009

Memasuki tahun ke dua kami di Bandung merupakan sukacita kami bisa ada di kota ini. Banyak perkara dan hal yang diizinkan Tuhan untuk kami kerjakan disini melalui caraNYA. Acap kali kami hendak melakukan sebuah pekerjaan dengan kemampuan atau pengalaman kami di masa lalu. Tuhan menegur kami dan membimbing kami, untuk sungguh-sungguh melakukan apa yang Bapa sedang kerjakan, menyatakan apa yang Bapa nyatakan.

Dua tahun terakhir ini dengan dana terbatas yang ada kami mengontrak dua buah kamar tempat kost untuk menjadi tempat tinggal sekaligus “kantor” pelayanan kami. Satu kamar sebagai kamar tidur dan sebuah lagi sebagai ruang kerja sekaligus ruang tamu (kadang kami alih fungsikan bagi tamu dari luar kota maupun luar negeri yang mau menginap di istana kami).

Dalam keterbatasan sekalipun kami melihat penyertaan Tuhan, dikala keuangan menjadi kendala pelayanan. Tuhan selalu memiliki dan membuka jalan bagi anak-anakNya yang mencari Dia dalam ketulusan. Kala orang lain tengah frustasi dan mengeluh kekurangan dana untuk mengembangkan pelayanan, kami yang sama sekali tidak memiliki fasilitas memulai pelayanan sebagai penulis lepas dari beberapa media Kristen yang ada secara “cuma-cuma”. Kami hanya menabur saja benih Firman Tuhan tanpa pamrih. Ketika kami coba membina hubungan dengan beberapa anggota tubuh Kristus untuk berjejaring dan bekerjasama kami seolah membentur tembok penolakan. No hard feelings, kami menyadari terkadang “kehidupan pelayanan atau gereja” dewasa ini “kurang sehat”. Gereja atau pelayanan menjadi seolah “perusahaan rohani” hingga menggunakan sistem franchise, sistem merger atau bahkan diambil alih oleh “organisasi gereja yang lebih besar”. Ketika di suatu daerah sudah ada “gereja A”, biasanya ada saja “gereja lain” masuk ke wilayah tersebut. Seandainya masuk ke wilayah yang sama dan menjangkau jiwa-jiwa belum percaya atau belum bergereja nampaknya bukanlah suatu cela. Namun bila masuk ke sana dan lalu menyedot jemaat dari “gereja A” maka ini merupakan cela dalam pelayanan gereja. Kita seharusnya saling membangun dan menolong bukan menjatuhkan seperti itu. Kita melayani Tuhan demi kepentingan KerajaanNya...demi kepentingan GerejaNya...bukan kerajaan dan gereja kita.
Hingga saat kita dengan tulus ingin membangun jaringan pelayanan dalam satu kesatuan sebagai tubuh Kristus, kita dipandang sebagai kompetitor baru. Harap dicatat maksud dan tujuan kami disini bukanlah hendak mempersatukan semua gereja dan pelayanan dalam “satu atap organisasi”. Kami rindu semua organisasi gereja dan pelayanan dapat berjejaring untuk tujuan ilahi, karena kita satu tubuh dan Tuhan Yesus sajalah Kepala kita.
Saya dapat berkata begitu sebab dulu saya pernah ada dalam pola pikir yang sama. Saat saya menggembalakan jemaat di Surabaya, yang ada dalam benak saya adalah bagaimana “gereja saya” bisa berkembang dan memiliki pengikut yang makin bertumbuh & banyak jumlahnya. Jangan sampai jemaat saya pindah gereja lain sebab itu dapat merugikan income kami. Kebanggaan saya sebagai “pendeta” kala itu adalah seberapa besar jumlah jemaat saya, berapa besar gedung gereja saya, berapa cabang gereja saya, berapa banyak kelompok kecil saya yang bertumbuh dan bertambah , berapa pemimpin baru yang saya hasilkan, berapa petobat baru yang kami hasilkan, dstnya..dstnya. Pusatnya adalah saya, gereja saya.
Di kala gereja kami kala itu mencapai titik jenuh dan mulai tidak bertumbuh atau bertambah, dan “gereja-gereja lain” mulai buka cabang di sekitar kami. Maka saya pun berdoa untuk “kebangunan/kebangkitan rohani”, motivasi saya sebenarnya adalah agar “gereja saya” bertambah jumlah anggotanya dan “saya” menjadi tokoh kebangunan rohani itu. Semua saya lakukan karena merasa pelayanan gereja sudah mulai “macet” dan sekarang ada kompetitor yang siap merebut “jemaat kami” masuk ke dalam “gereja mereka”.Jadi bukan sekedar ingin melihat orang percaya bertumbuh dalam Tuhan namun ingin “punya nama dan pelayanan besar”. Dulu saya katakan untuk “kemuliaan Tuhan”, namun sadar atau tidak, dalam hati yang terdalam harus diakui itu semua untuk “kebanggaan diri sendiri”. Keinginan diakui sebagai pendeta yang berhasil.
Hingga suatu hari saya tertempelak saat tengah berdoa bahwa seharusnya saya membangun “Gereja Tuhan”, bukan gereja saya. Yesus-lah Gembala yang baik dan agung, saya hanyalah hambaNya yang membantu menggembalakan umatNya semakin mengenal pribadiNya. Mengapa saya mendoakan agar terjadi “kebangunan/kebangkitan rohani”? Bila Yesus adalah pokok anggur dan kita carangnya, seharusnya kita senantiasa hidup di dalam Dia (Yohanes 15). Kalau gereja yang saya gembalakan “mati”, jangan-jangan karena itu “gereja saya” dan bukannya “Gereja Tuhan” yang seharusnya senantiasa melekat dengan Kristus Yesus.

Dalam keterbatasan dana yang ada, kami berdoa apa yang harus dan dapat kami kerjakan. Sebagaimana anak kecil yang membawa 5 roti jelai dan 2 ikan pada Tuhan Yesus untuk memberi makan 5000 orang (Yoh 6:1-15), begitu pula kami dengan jumlah uang yang mungkin bagi sementara orang tidak ada artinya, datang padaNya. Lalu Tuhan ingatkan bahwa Ia sanggup memberi makan 5000 orang dengan melipatgandakan apa yang kami miliki. Akhirnya Tuhan membimbing kami melayani melalui dunia maya. Kami sempat menggunakan koneksi “W” untuk akses internet di rumah namun kadang terkendala dengan sambungan internet yang lambat. Hingga akhirnya kami menggunakan jasa warnet untuk memperlebar Kerajaan Tuhan dan memuridkan bangsa-bangsa.
Saat kami pertama kali melakukan pelayanan dunia maya, kami ini ditertawakan dan dicibir, namun saat pelayanan kami mulai berkembang, “seperti biasa” mendadak semua melakukan hal yang sama.
Bagi kami melihat kejadian tersebut satu kata yang keluar dari mulut kami, Haleluya, akhirnya ada lebih banyak orang digerakkan Tuhan untuk melakukan penjangkauan, penginjilan, pengajaran, sekolah Alkitab, memperlengkapi umat Tuhan dan masih banyak hal lagi melalui dunia maya.

Kami bersyukur melalui salah satu website pertemanan Facebook, kami dapat terhubung kembali dengan banyak teman-teman lama (SMPK Bahureksa, SMAK Dago, STBA Yapari, INTEL, geng Moonraker,dll), rekan-rekan seperjuangan dalam pelayanan (Cornelius Wing, Jonathan Pattiasina, Samuel Saputra, Franky Sihombing, Melanie Pedro, Roger Thoman, Jammie Bakker, Shelley Lubben, Morria Nickels, Frank Viola, Neil Cole, Robert Ricchiardelli dll) , anak-anak rohaniku maupun teman-teman baru bahkan keluarga besarku. Luar biasa sekali!

Puji Tuhan, bahwa salah satu pelayanan kami, Eagles Nest Online Bible School yang sederhana dapat berkembang dalam hitungan bulan kini bukan hanya diikuti oleh saudara-saudara seiman di Indonesia namun juga Singapura. Ini merupakan hal yang luar biasa bagi kami. Sungguh Tuhan menguatkan kami, sebab kala kami memulai Sekolah Alkitab gratis ini, orang-orang pun terheran-heran. Mengapa kamu tidak menarik biaya para siswa/murid yang mau belajar? Alasan kami sebab Tuhan Yesus tidak pernah menagih uang sekolah dari para muridNya. Maka saya pun tidak akan menagih biaya apa-apa, kecuali para murid digerakkan oleh Tuhan dan ingin memberi dengan sukacita. Bagi kami yang terpenting adalah mereka yang menjadi siswa, mempelajari, menghidupi kebenaran dan memuridkan orang lain lagi. Sekolah ini bukan tentang mencari uang tetapi mencari Tuhan. Bila pun ada orang yang mengambil bahan ini secara cuma—cuma bagi kelompok kecilnya atau pemuridan di organisasi gerejanya atau untuk dipelajari sendiri,asalkan orang tersebut bertumbuh dan makin cinta Tuhan. Maka tugas kami sebagai pendidik dan pengajar berhasil. (Catatan: Ini merupakan “keyakinan” kami, jadi bila Sekolah Alkitab atau STT anda menarik biaya tidak ada tujuan kami sedikitpun “menyerang” lembaga anda. God bless you)

Kini kami tengah berdoa untuk sebuah tempat/rumah yang cukup besar untuk kami gunakan sebagai tempat untuk menjadi pusat studi dan pembelajaran yang kami beri nama PUSAT PEMBELAJARAN & PENGEMBANGAN KOMUNITAS (P3K) atau COMMUNITY STUDIES & DEVELOPMENT CENTER (CSDC). Kami telah memiliki sekitar 1000 judul buku rohani, puluhan buku sekuler dari berbagai latar belakang ilmu, beberapa ratus judul kaset/CD/VCD khotbah & pengajaran dimana kami hendak membuat perpustakaan bagi tubuh Kristus hingga kita semua dapat belajar untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Sebenarnya ini merupakan koleksi pribadi yang saya sangat sayangi namun apa artinya bila semua buku itu hanya disimpan di lemari, lebih baik dibuka bagi mereka yang mau belajar dan bertumbuh dalam Tuhan untuk menjadi dampak bagi sekitarnya.

Kami juga rindu untuk mengadakan lebih banyak pelatihan untuk memperlengkapi tubuh Kristus secara interdenominasi tanpa memandang asal muasal denominasinya. Kami rindu untuk memperlengkapi setiap orang kudus untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Dunia ini membutuhkan kita sebagai “garam dan terang di muka bumi ini”. Hati kami rindu melihat orang percaya tidak hanya “jago kandang”, nampak luar biasa di dalam gedung gereja namun saat di luar “melempem” (tidak ada dampaknya).
Selama hampir dua tahun ini, kami memperlengkapi “orang kudus” di tempat umum (cafe, rumah makan, warung lesehan, rumah orang yang kami layani, bahkan di pinggir jalan) atau di salah satu kamar yang kami sewa. Kami belum memiliki dana untuk menyewa tempat khusus atau membeli rumah, namun satu perkara yang indah adalah Tuhan ada di tengah kami. Kami tidak ingin dibatasi oleh fasilitas yang belum kami miliki dan membatasi Roh Kudus untuk bekerja di tengah kami.

Dari pelayanan The Body Building (Pelayanan jejaring kami). Puji Tuhan, pada bulan April dan Mei ini kami akan mengadakan camp Father Heart and Sonship bersama pelayanan Zoe Ministries Malaysia, yang dipimpin Pr Christopher K. Camp ini akan diadakan di dua kota yaitu Surabaya dan Bandung. Selebihnya kami akan melayani bersama beliau di Probolinggo dan Jember di beberapa organisasi gereja yang membuka diri. Apa yang orang pandang tidak mungkin, menjadi selalu mungkin bila Tuhan yang telah menetapkan.

Beberapa rekan lain, seperti Robert Fitts (Uncle Bob) dari Outreach Fellowship International dan Roger Thoman dari Appleseed Ministries juga merencanakan untuk datang ke Indonesia untuk melihat apa yang Tuhan kehendaki untuk mereka kerjakan atau bantu untuk Indonesia. Kami mungkin tidak punya apa-apa namun kami ini “milik” Tuhan yang memiliki segala sesuatu. Bersama kedua rekan senior saya di atas kami tengah berdoa agar gereja dapat berdampak dalam masyarakat bukan hanya sekedar secara rohani namun juga secara holistik. Meski mereka mengenal Kristus Yesus sebagai Tuhan mereka. Namun bila kita tidak menolong mereka untuk pulih secara kejiwaan dan secara finansial bangkit, maka kita akan melihat jiwa-jiwa ini hidup dalam kebiasaan lama mereka.
Beberapa tahun lalu, kami banyak memenangkan jiwa atas kasih karunia Roh Kudus dan sesekali memberikan bantuan sembako atau pengobatan gratis secara periodik. Petama-tama, kami puas melihat jiwa-jiwa diselamatkan dan kami dapat “melakukan perbuatan baik” dengan memberikan sumbangan dalam bentuk sembako maupun medis. Namun bila kami melihat dari dekat, tidak banyak perubahan yang signifikan secara holistik, kadang mereka berkompromi lagi dengan pola dunia atau cara hidup yang lama akibat kesulitan hidup. Mereka tidak hanya butuh hal rohani, mereka juga butuh pemenuhan kebutuhan kejiwaan maupun jasmani.
Mereka yang sempat kami layani adalah mantan pengedar narkoba, bandar judi, pelacur, anak geng/mafia, paranormal, kasus curanmor, anak jalanan, petani miskin, mantan napi dan yang sejenisnya.
Sebab kami kala itu sebagai gereja Tuhan, hanya tertarik pada “jumlah yang diselamatkan” lalu meninggalkan mereka. Persis seperti orangtua yang tidak bertanggungjawab, setelah melahirkan seorang anak ditinggalkan begitu saja, hanya sesekali ditengok itupun kalau tidak lupa. Saya sangat menyesali kebodohan saya kala itu sebagai seorang pemimpin dan “ayah rohani”.
Untuk kesekian kalinya Tuhan menegur kami, hingga paradigma pelayanan kami berubah dan kini kami mau melayani secara lengkap, sebuah pelayanan holistik yang menyentuh rohani, kejiwaan dan jasmani mereka. Kini kami melihat jiwa-jiwa ini sebagai pribadi yang unik. Kami tidak mau lagi melihat mereka sebagai sekedar jumlah bilangan atau proyek pelayanan.Bukan masalah berapa banyak jiwa, namun berapa orang yang dapat kami bimbing dan bawa terus bertumbuh dalam Tuhan hingga ia dapat menjadi terang dan garam bagi rekan-rekannya “di masa lalu”. Kini kami fokus di dalam memuridkan mereka yang telah mengenal Kristus Yesus secara holistik.

Bagi sementara orang, yang seperti biasa menjadi “pengamat rohani”, kami ini nekat katanya. Memang tipis nampaknya antara hidup nekat dan beriman pada Tuhan bagi sebagian orang. Dalam ketiadaan dana dan donatur sekalipun, kami tetap mau taat padaNya. Entah ada yang memback-up kami atau tidak, kami tidak ambil pusing. Kami melihat pelayanan ini sebagai bagian hidup kami dan bukan pekerjaan apalagi mesin untuk menghasilkan uang. Ini adalah visi dan misi keluarga kami. Ketika ada orang-orang yang mau berjuang bersama kami, puji Tuhan, sekalipun tidak ada, tidak masalah sebab Tuhan beserta kami, Ia adalah Immanuel. No hard feelings, Brothers and Sisters. Kita sama-sama membangun tubuh Kristus. Kita mau taat untuk mengerjakan bagian kita dalam arahan Dia. Kami sudah belajar makna hidup dalam kelimpahan maupun kekurangan, kami belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal. Kami belajar untuk melihat segala sesuatu dari perspektif Tuhan, melihat situasi seberat apa pun secara positif. Sebagai sebuah kesempatan dimana Tuhan ingin membentuk karakter kami makin segambar dengan Kristus.

Sebuah lembaga gereja dan pelayanan bernama United Christian Faith Ministries (UCFM) dari Amerika Serikat pun menahbiskan saya, Dave Broos, sebagai UCFM ordained minister mereka untuk wilayah regional 11 Asia pada tanggal 22 Februari 2009 lalu. Ini juga di luar dugaan bahwa pelayanan kami mendapat apresiasi dan pengakuan dari rekan-rekan di sana. Puji Tuhan, kini kami bisa berjejaring dengan rekan tubuh Kristus lebih luas lagi dan kami bersukacita atas hal tersebut. Maz 133.

Kini yayasan yang dahulu kami dirikan di Surabaya, Yayasan Pelayanan Cinta Kasih Bangsa (YPCKB), pada November 1998 rupanya dikembalikan kembali untuk dikelola oleh kami. Kami sempat mengundurkan diri dari yayasan tersebut pada tahun 2005 akibat terjadi apa yang saya sebut sebagai “politik dalam pelayanan”. Kini kami tengah berembuk dengan beberapa rekan sekerja di Surabaya dan anak-anak rohani kami di sana bagaimana solusi terbaiknya. Kerinduan kami yayasan ini dapat menjadi alat Tuhan kembali setelah sempat “mati suri” sepeninggal kami kala itu. Tolong dukung doa agar permasalahan pajak yang sempat terbengkalai beberapa tahun terakhir ini dapat diselesaikan dengan baik. Dukung doa agar rekan saya, Onggo Susilo, yang saya percayakan untuk mengambil kemudi yayasan ini di Surabaya dapat secara optimal menjadi terang berkat di sana.

Pada bulan April ini pun , kami akan mengadakan pelayanan bersama badan missi Open Doors. Kami melayani bersama OD, sebab kerinduan hati kami sama untuk melihat Amanat Agung terjadi di muka bumi dan kita sebagai satu tubuh Kristus bekerja bersama-sama menanggung beban terutama bagi anggota tubuh/gereja yang teraniaya. Sebagai salah seorang volunteer OD di Bandung, kami sangat gembira dapat berjejaring dan bekerjasama memperluas Kerajaan Tuhan. Kami berdoa agar organisasi gereja di Bandung mau membuka diri dan perduli terhadap gereja Tuhan teraniaya di muka bumi ini.

Dukung doa juga untuk istri saya, Novie, yang saat ini tengah menjabat ketua PA Haleluya (Persekutuan para orangtua murid di Lembaga Pendidikan Baptis Bandung). Agar perubahan yang Tuhan kehendaki dan regenerasi dapat terjadi dalam persekutuan ini. Ada banyak tantangan dari muka lama yang tidak menyukai perubahan-perubahan. Ini sudah bagian sejarah kekristenan dimana mereka yang dulu merupakan bagian movement (kegerakan) kemudian membuat monument (monumen). Hingga saat Tuhan ingin membuat pergerakan lagi, ia tidak mau bergerak sebab sudah mapan. Ketika Tuhan memakai orang lain (apalagi yang lebih muda), tanpa sadar mereka menganiaya orang yang mau mentaati Tuhan tersebut. Mengapa? Orang yang merasa dirinya “pendiri” kadang terusik dikala ada seorang baru yang menarik perhatian “massa”nya. Persis seperti Orang Farisi terusik dengan pelayanan Tuhan Yesus. Kita sebagai anak-anakNya pasti akan mangalami hal seperti itu juga. (Yoh 15:20)

Simple Church Network, pun telah mengadakan pertemuan di rumah-rumah atau kadang juga di tempat umum. Suatu kumpulan murid yang belajar bersama-sama, berdiskusi, membicarakan permasalahan dalam kehidupan, saling menasehati, membantu dan berdoa. Ada banyak orang yang enggan ke gereja (karena berbagai alasan) maka kami membawa gereja ke tengah mereka. Kami coba belajar menghidupi pola gereja mula-mula yang ada dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 dan Matius 18:20. Kadang kami hanya melayani satu jiwa, kadang satu keluarga, kadang satu kelompok, kadang satu komunitas besar, intinya kami tidak perduli berapa banyak yang kami layani. Lebih baik melayani satu jiwa yang sungguh-sungguh haus dan lapar akan Tuhan (ingin menjadi murid Kristus) daripada satu gereja atau komunitas besar yang hanya suka khotbah “ice cream” dan berdoa “give me..give me, blessed me blessed me”.


THE EAGLES NEST MINISTRIES:


THE BROOS FAMILY

Wednesday, February 11, 2009

DUKUNG DOA UNTUK RENCANA CAMP "FATHER HEART & SONSHIP"


DUKUNG DOA UNTUK RENCANA CAMP “FATHER HEART & SONSHIP”

Eagles Nest Online Bible School bekerjasama dengan pelayanan Zoe Ministries Malaysia akan mengadakan sebuah camp pada bulan Mei 2009 ini di kota Bandung. Dimana camp ini akan dilayani oleh Pr Christopher K, pendiri dari Zoe Ministries Malaysia. Beliau sejak tahun 1995 telah menjadi mentor dan bisa saya katakan juga sebagai “ayah rohani” yang menghidupi apa yang beliau ajarkan.
Pr Christopher K, merupakan seorang juara Karate Malaysia di era tahun 70-an dan juga guru Kick Boxing, beliau telah malang melintang mengikuti kejuaraan dunia Karate sampai bertemu dengan Tuhan Yesus. Beliau berlatar belakang agama Hindu, bertobat dan bertumbuh hingga lulus dari sebuah Seminari Baptis. Beliau mengalami kepenuhan Roh Kudus dan lalu merintis gereja berlatar Kharismatik bernama The Tabernacle. Hingga pada akhir tahun 1990-an, Tuhan memanggil beliau untuk memperlengkapi gereja Tuhan di seluruh dunia. Beliau melepaskan gereja yang beliau gembalakan pada “murid” yang selama ini membantu pelayanan, dan beliau sekeluarga mulai memberkati bangsa-bangsa. Selain menjadi berkat bagi negaranya, Malaysia, beliau telah memberkati Indonesia, Singapura, Thailand, India, Selandia Baru, Rusia, Inggris, Skotlandia dll. Lebih lanjut dapat mengakses http://zoeministries.blogspot.com .

CAMP “FATHER HEART & SONSHIP” bukan “hanya” sekedar acara camp biasa, namun kami berdoa agar setiap peserta camp kembali mengalami pemulihan hubungan dengan Bapa surgawi. Ada begitu banyak “pelayan Tuhan” yang terluka di dalam pelayanan namun tidak tahu harus berbuat apa, ia merasa terjebak di dalam pelayanan. Ia butuh mengalami pemulihan namun di sisi yang lain, ia mengalami dilema, ia takut jemaat atau orang-orang yang dimuridkan tahu kelemahannya. Ia takut “anak-anak rohaninya” menjadi lemah dan tersandung. Hingga akhirnya ia coba bertahan seorang diri.

Brothers and sisters, semua kita punya sisi kelemahan entah secara spiritual, kejiwaan maupun dalam hal disiplin mengendalikan tubuh kita. Bila kita tidak sungguh-sungguh mengalami pemulihan dan “pura-pura” semua baik-baik saja tanpa sadar kita juga dapat melukai jemaat Tuhan maupun orang-orang yang kita muridkan. Mengapa banyak institusi gereja pecah? Mengapa pemimpin gereja saling menjelekkan? Mengapa gereja sulit untuk dapat berjalan seiring? Mengapa gereja ribut untuk hal-hal yang tidak esensi? Mengapa gereja rebutan jemaat? Sebab ada luka dan hal yang belum tuntas dalam hati, selama kita terfokus pada luka dan ego maka sulit kita dapat berjalan seiring. Meski kita beragam(berbeda organisasi, institusi, dll), kita sebenarnya dapat bekerjasama satu dengan yang lain sebagai tubuh Kristus (1 Kor 12-14). Asalkan kasih AGAPE sungguh-sungguh memulihkan kita, semua mata tertuju pada YESUS, kita melakukan apapun untuk Dia maka kita tidak lagi saling berkompetisi dan bersaing namun saling membantu untuk memperlebar Kerajaan Tuhan. Sungguh alangkah indah dan baiknya bila saudara seiman hidup rukun bersama (Mzm 133).

Tujuan camp ini juga bukan untuk mendapatkan peserta sebanyak-banyaknya, sebab kami fokus pada mereka yang sungguh-sungguh mau dipakai Tuhan untuk pemulihan generasi ini, mereka yang dengan segenap hati mereka mau untuk menjadi murid Kristus, mereka yang mau memperluas Kerajaan Tuhan dan mereka yang sungguh-sungguh mau menjadi dampak (terang & garam) bagi bangsanya. Kami tidak mencari “followers” (pengikut) tetapi mereka yang mau menjadi “disciples”(murid) dari Kristus.(Mat 28:18-20, Mrk 16:15-18, Kis 1:8)

Camp ini bukan hanya sekedar mengimpartasikan pengetahuan, namun kami menawarkan “hubungan”. Pemulihan hubungan dengan Bapa Surgawi, sesama dan berjalan dalam otoritas sebagai anak Tuhan, menjadi dampak bagi komunitasnya.

Kerinduan kami adalah seusai camp, setiap orang yang hadir dapat sungguh-sungguh menjadi satu keluarga dalam Tuhan. Dimana setelah kita kembali ke tempat pelayanan masing-masing, kita dapat saling menguatkan dan fungsi tubuh Kristus sungguh-sungguh mengalami pemulihan. A church without any walls….kita semua berfungsi sebagai gereja Tuhan tanpa dibatasi “organisasi gereja kita”, sebab kita adalah gereja (ekklesia) yang merupakan organisme di dalam Kristus.

Dukung doa untuk acara ini terutama tempat di daerah Lembang dan juga dana untuk camp ini. Prioritas bagi para murid Sekolah Alkitab Online namun diluar itu, bila ada yang ingin ikut dapat menghubungi saya. Sebagaimana dijabarkan di atas, bila anda mau menjadi murid Kristus dan mau hidup anda menjadi dampak bagi lingkungan sekitarmu, it’s OK to join us.

Salam pergerakan,


Dave & Novie Broos

The Eagles Nest Ministries (http://3a9l35-n35t.blogspot.com)
Eagles Nest Online Bible School (http://enonlinebibleschool.blogspot.com)
Renungan Kehidupan (http://renungandave.blogspot.com)

Saturday, January 24, 2009

ISTRI SEBAGAI PENCARI NAFKAH


ISTRI SEBAGAI PENCARI NAFKAH

Suami saya baru saja kehilangan pekerjaannya dan usianya juga sudah hampir 50 tahun. Ia belum dapat memperoleh pekerjaan yang lain pada saat ini. Kini, sayalah satu-satunya yang mencari nafkah dalam rumah tangga. Hal ini juga sangat disesali olehnya. Bagaimana saya dapat meredakan stress? (Ibu X di Jakarta)



JAWABAN
Ibu X,
Hati kami tersentuh pada saat kami mendengar kesulitan yang sedang dialami oleh Ibu dan suami. Kehilangan pekerjaan merupakan suatu hal yang sulit, dan tidak mendapatkan pekerjaan lain merupakan hal yang lebih buruk lagi. Suami Ibu mungkin merasa frustrasi dan tidak berdaya untuk menciptakan perubahan, dan Ibu sedang mengalami kelelahan. Mungkin menolong bila Ibu memahami bahwa ada pokok permasalahan yang lebih luas yakni usia dan nilai. Budaya pada masa kini sangat berorientasi pada generasi muda. Vitalitas dan kreativitas dari kaum muda sering kali mengungguli pengalaman dan hikmat dari orang yang lebih lanjut usianya. Sebagai akibatnya, jika kita semata-mata mendasarkan nilai pribadi kita pada budaya masa kini, maka kita akan merasa tidak bernilai, tidak dihargai, marah, bahkan penuh dengan kebencian.
Jadi, bagaimana Ibu sebagai istri yang punuh kasih mendukung suami melalui pergumulan ini? Berikut adalah masukan dari kami :
1.Mengerti bahwa frustrasi yang dialami oleh suami Ibu mungkin tidak ada kaitannya dengan Ibu. Biasanya rasa frustrasi yang ia alami lebih berhubungan dengan rasa tidak berharga yang dialami sekarang.
2.Mengekspresikan secara tulus penghargaan Ibu terhadap suami. Akui kontibusi-kontribusi positif yang telah ia lakukan dalam hidup Ibu selama ini.
3.Mengingatkannya bahwa Ibu akan melalui masa-masa sulit ini bersama dengannya. Yakinkan dukungan Ibu baginya.
4.Bertanya secara teratur kepada suami Ibu agar ia bercerita tentang apa yang sedang ia alami. Dengarkan ia tanpa mendorong ia untuk mengubah perasaan-perasaannya.
5.Menawarkan bantuan. Tanyakan beberapa ide padanya tentang apa yang dapat Ibu lakukan dan sangat berguna baginya. Jika ia tidak dapat menjawab, maka tawarkan secangkir kopi, dsb.
6.Menerima kenyataan bahwa situasi saat ini memang sulit, namun tetaplah berharap.
(Diterjemahkan dari Majalah Focus on the Family edisi January 2009)

Sunday, January 4, 2009

Quality of a leader


"The quality of a leader is reflected in the standards they set for themselves."

Sunday, December 28, 2008

Wealth is Nothing to Fear


Wealth is Nothing to Fear


The Next Spiritual Discipline - Multiplying finances and converting money to ministry is a spiritual discipline as important as prayer, prophecy and healing. Wealth is the engine that grows the Kingdom. Mentoring multiplication is natural part of our disciple-making process for Kings. As we've considered God's direction for marketplace ministry, Releasing Kings, and the current season we've seen three over-arching goals or steps: 1) communicate the message, 2) make the money, and 3) convert the money into missions. We've also updated the vision graphic to show how those three areas are going to change the world. Take a look. I'm interested in your comments.

There is an emphasis in all three areas but I see the second (wealth creation) as a major focus for 2009. Breaking the yoke of poverty off God's people starts with a correct theological foundation that is the theme of all our books and newsletters. Once the foundation is laid, we naturally move toward God's favor and a fruit bearing season in our lives.

Solomon obviously felt prosperity was important! We've listed nine aspects of wealth creation from the book of Proverbs.

1. The Connection between Wealth and Wisdom - Wealth is the fruit of Godly wisdom.

Long life is in her right hand; in her left hand are riches and honor. Prov 3:16



2. Prosperity Is From God - Wealth is the blessing of God for the righteous, but it only comes to those with diligence, dreams and a plan to fulfill them.

I love those who love me, and those who seek me find me. 18 With me are riches and honor, enduring wealth and prosperity. 19 My fruit is better than fine gold; what I yield surpasses choice silver. 20 I walk in the way of righteousness, along the paths of justice, 21 bestowing wealth on those who love me and making their treasuries full. Prov 8:17-21 NIV

Lazy hands make a man poor, but diligent hands bring wealth. Prov 10:4 NIV

The blessing of the LORD brings wealth, and he adds no trouble to it. Prov 10:22 NIV

Misfortune pursues the sinner, but prosperity is the reward of the righteous. Prov 13:21 NIV

He who pursues righteousness and love finds life, prosperity and honor. Prov 21:21 NIV


3. Desires of the Heart - Having strong desires is the healthy fuel that enables us to be diligent. Don’t be afraid of your desires. Discern the difference between Godly desires and vain fantasies and “work” to fulfill them. Have a purpose you care about and help others to value their own heart’s desires. Plans lead to profit!

The desire of the righteous ends only in good, but the hope of the wicked only in wrath. Prov 11:23 NIV

The sluggard craves and gets nothing, but the desires of the diligent are fully satisfied. Prov 13:4 NIV

He who works his land will have abundant food, but he who chases fantasies lacks judgment. Prov 12:11 NIV

The purposes of a man's heart are deep waters, but a man of understanding draws them out. Prov 20:5 NIV



4. The Plans - We’re responsible to have a plan, not just wait for God to show us one. God's guidance is quite often general. Servants wait for specifics that never come, while Kings fill in the blanks and build the Kingdom.

The plans of the righteous are just, but the advice of the wicked is deceitful. Prov 12:5 NIV

The plans of the diligent lead to profit as surely as haste leads to poverty. Prov 21:5 NIV



5. Generosity - Wealth is a tool for ministry that blesses us in return. True generosity is not just giving men fish, but teaching them how to catch their own fish (buying and selling). Notice the "s" word is in the Bible!

A generous man will prosper; he who refreshes others will himself be refreshed. 26 People curse the man who hoards grain, but blessing crowns him who is willing to sell. Prov 11:25-26 NIV



6. the Home - The home of a wealthy person has nice things in it that are "prized" and well cared for.

The house of the righteous contains great treasure, but the income of the wicked brings them trouble. Prov 15:6 NIV

In the house of the wise are stores of choice food and oil, but a foolish man devours all he has. Prov 21:20 NIV

27 The lazy man does not roast his game, but the diligent man prizes his possessions. Prov 12:27 NIV


7. The Family - We're not too spiritual or too worried about the rapture to have a plan to provide our children and grandchildren with an inheritance... including houses and wealth! Not too many Christians have that base covered. Do you?

A good man leaves an inheritance for his children's children... Prov 13:22 NIV

Houses and wealth are inherited from parents, but a prudent wife is from the LORD. Prov 19:14 NIV


8. The Goal - The goal isn’t wealth itself: it’s the ministry to others that wealth makes possible. Wealth is just a tool for ministry. If greed puts our focus on the wealth instead of the Kingdom, the wealth flies away like a bird. We have to enjoy the process of our work and the purpose of our ministry. It’s fun to multiply money and do ministry!

Do not wear yourself out to get rich; have the wisdom to show restraint. 5 Cast but a glance at riches, and they are gone, for they will surely sprout wings and fly off to the sky like an eagle. Prov 23:4-5 NIV



9. The Mindset - We have to convert from servants that can’t hear this new message to Kings that are comfortable with wealth and ministry who look for opportunities. It’s a new way of thinking that isn’t supported by our old “obedience” theology. It's more "caught" than "taught". We no longer servants (Jn 15:15).

A servant cannot be corrected by mere words; though he understands, he will not respond. Prov 29:19 NIV

It is the glory of God to conceal a matter; to search out a matter is the glory of kings. Prov 25:2 NIV




Bless your 2009,



John and Sue www.Releasing-kings.com

Tuesday, December 23, 2008

Merry Christmas and a happy new year 2009

Merry Christmas and a happy new Year 2009. Harapan kami di malam Natal kita sekali lagi berjumpa secara pribadi dengan KRISTUS. Doa kami sekeluarga ada penghiburan dan kekuatan yang baru di malam Natal ini.

We that love and care for you,

Dave and Novie

Tuesday, December 2, 2008

Teamwork and Leadership


Teamwork and Leadership
by John C. Maxwell www.maximumimpact.com
________________________________________
Leadership Inspiration from Nature

Leadership lessons are all around for those who know how to look for them. I’ve observed some- powerful motives for leading through teams from the trees around me.

A few winters ago, parts of the southeastern United States, including Atlanta where I now live, endured a much tougher than usual winter. Following a wet, six-inch snowfall, pine trees made a great parable of the need for teamwork.

Along the roads I noticed that where tall, young pine trees grew in large stands, even though the branches were bowed with the heavy snow, the trunks and branches were able to lean against one another, thus providing support. When the snow melted, those trees that had support sprang back into their usual vertical positions. But where that same species of tree stood alone, the snow’s burden had a much different effect. Branches bent until they snapped. Occasionally, the trunk even split in two. Otherwise healthy, young trees lay broken in the snow.

On the West coast, where I previously lived, a different type of tree provided another dramatic parable. The giant redwoods only achieve their great size in forests of redwoods. The root systems of these mammoth trees are relatively shallow. Planted alone, they will inevitable topple in high winds. But in redwood forests, their roots become entangled and bound together below the earth’s surface. Each tree is tethered by all its neighbors, and together they can withstand hurricane force winds.

Leaders who go it alone will fail alone. Collaborative leadership takes more effort, but it yields greater results. Collaborative leadership takes more time, but it provides a greater probability of success. The adage, “None of us is as smart as all of us” becomes evident when your failure is a direct result of failing to enlist the input of your team.
1. Plan Together.
This allows you to share the victory with your team, and allows your team to share with you in the face of defeat.
2. Prepare Together.
Getting input from your team members not only improves your chances of winning, it also prepares others for leadership roles. When leaders and potential leaders work together, they learn from each other new ways of processing information and planning strategically.
3. Celebrate Together.
Never pass up an excuse to throw a party. One of the most common flaws I see in leaders across the country is when they reach a significant milestone; they immediately set their sights on another without stopping long enough to celebrate the victory they’ve just won. Do it! Not for you, but for everyone else who gave so much to make the win a reality. And if you lose one once in a while, celebrate the fact that it could have been worse!
4. Debrief together.
After each win or loss, schedule a brief meeting to find out from each participant what went well – and what could have gone better. You’ll see the situation from multiple viewpoints, and you’ll also see first-hand who on your team is growing in their ability to handle success and defeat.

When you apply the lesson of the trees, you’ll emerge from the storms of life intact!