Showing posts with label newsletter. Show all posts
Showing posts with label newsletter. Show all posts

Wednesday, May 8, 2013

EAGLES NEST MINISTRIES








 
EAGLES NEST MINISTRIES
Jawaban bagi Indonesia
Indonesia dikenal sebagai sebuah negara kepulauan yang memiliki keragaman suku, budaya dan bahasa daerah. Mayoritas penduduk Indonesia merupakan orang non Kristen dan merupakan negara Muslim terbesar di dunia. Masih ada sekitar 129 suku dari 23 rumpun suku di Indonesia yang sama sekali belum pernah mendengar berita Injil. Gereja Tuhan di Indonesia mungkin telah berupaya memberitakan Injil dalam masyarakatnya namun hasilnya belum optimal. Begitu banyak orang yang menolak berita sukacita tersebut karena menganggap berita tersebut sebagai “kepercayaan asing”. Sebab dibagikan dalam kemasan yang kebarat-baratan, yang mungkin tidak cocok dengan budaya setempat dari masyarakat yang hendak dijangkau. Ada banyak suku yang siap dan terbuka seandainya kita memberitakan berita keselamatan itu dengan menyajikannya sesuai kebiasaan, adat istiadat serta budaya mereka.
Eagles Nest Ministries berdiri 1 Juli 2007 di kota Bandung, salah satunya untuk menjawab tantangan ini. Pelayanan ini dirintis oleh suami istri Dave Broos dan Novie Durant yang merindukan umat Tuhan meresponi Amanat Agung Tuhan (Mat 28:19-20, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman) untuk menjadi murid dan menjadikan segala bangsa murid Tuhan hingga kerajaan Tuhan diperluas, suatu umat yang bukan “sekedar beragama Kristen” tetapi mengetahui panggilan Tuhan atas hidupnya dan membawa dampak bagi komunitasnya. Dave Broos merupakan hamba Tuhan yang ditahbiskan oleh United Christian Faith Ministries dari Amerika Serikat, ditunjuk sebagai regional director dari Shadow of the Cross di Indonesia (sebuah pelayanan bagi sub kultur di perkotaan), pendoa syafaat Global Prayer Network – Johan Maasbach Wereld Zending dan utusan Injil dari Gereja Oikos Indonesia jemaat Surabaya.
Visi Eagles Nest Ministries adalah “MEMBERITAKAN KABAR BAIK, MEMURIDKAN & MENGUTUS SETIAP ANAK TUHAN UNTUK “MENJADI” GEREJA DIMANA PUN MEREKA BERADA”. Kerinduan kami adalah bekerja bersama dan memperlengkapi semua denominasi gereja, persekutuan, pelayanan Kristen lainnya dalam menyelesaikan amanat agung. Pelayanan ini berjejaring dengan pergerakan pemuridan dan penanaman gereja dunia Zoe Ministries, LK10 dan Outreach Fellowship International.
Missi kami adalah:
  • MEMPERKENALKAN PENGHARAPAN & KASIH BAPA SURGAWI PADA DUNIA TERHILANG
  • MEMULIHKAN & MEMURIDKAN MEREKA YANG BERKOMITMEN UNTUK BERTUMBUH DALAM KRISTUS
  • MELATIH DAN MENGUTUS MURID KRISTUS SEBAGAI AGEN PERUBAHAN KE SELURUH DUNIA
  • MELIHAT TERANG TUHAN BERSINAR DIMANA-MANA MENERANGI DUNIA SAMPAI TUHAN DATANG KEMBALI

Kami menyadari bahwa kami tidak bisa bekerja sendiri tetapi diperlukan kebersamaan dan kesadaran bersama akan kehendak Tuhan. Diperlukan sebuah kesehatian dan kesatuan (meski kita berbeda organisasi tapi satu dalam Tuhan Yesus) agar kita dapat berfungsi sebagai tubuh Kristus yang menjadi berkat dan dampak bagi mereka yang belum mengenal Tuhan.
Bagaimana Anda dapat menjadi rekan kami?
Keberhasilan pelayanan ini berarti juga keberhasilan umat Tuhan di Indonesia. Roma 10:13-15,”Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia jika tidak ada yang memberitakanNya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis:”Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Kami mengajak Anda untuk dapat terlibat bersama dalam menjangkau jiwa terhilang melalui 3D
DIRI
Bagi mereka yang mau terlibat dalam mewartakan Injil, pemuridan, penanaman dan pengembangan gereja. Kami memberi diri untuk memperlengkapi baik seorang pribadi maupun gereja atau persekutuan yang hendak bermultiplikasi atau menanggapi amanat agung. Bukan jumlah orang tetapi kesediaan menanggapi panggilan Tuhan adalah tujuan kami. Kami memiliki bahan-bahan pemuridan yang dapat digunakan baik untuk pribadi, persekutuan maupun gereja yang hendak bertumbuh.
DOA
Anda dapat berdoa syafaat keluarga kami dalam memenuhi panggilan Tuhan dalam kehidupan kami. Kami juga menyediakan blog yang berisi berita dan pokok doa bagi suku-suku terabaikan baik di Indonesia maupun mancanegara.
DANA
Bagi mereka yang mau mendukung kami agar kami bisa pergi memperlengkapi umat Tuhan maupun gereja Tuhan di daerah terpencil atau tak mampu hingga kami dapat memperlengkapi dan mengutus lebih banyak lagi anak Tuhan dalam pemuridan dan perintisan gereja. Bagi yang terbeban dapat menghubungi kami lebih lanjut.
Saya percaya Anda dapat menanggapi salah satu atau bahkan ketiga hal tersebut sebagai anggota tubuh Kristus yang telah mengalami kasih karunia dan anugerah keselamatan. Anda dapat merenungkan dan mendoakan ke tiga hal tersebut demi menjangkau mereka yang berseru,”Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami.” (Kis 16:9). Dapatkah Anda mendengar seruan mereka yang terhilang? Tuhan menunggu partisipasi dan pengabdian Anda kepadaNya.
Salam dan doa,
Dave Broos
Kontak kami dapat melalui inbox Facebook atau direct message Twitter, email: davebroos@yahoo.co.uk , telpon 022-92050322 atau SMS 087832744286.

Thursday, April 25, 2013

41 Leadership Quotes From Andy Stanley – Live Notes From Orange Conference ’13

41 Leadership Quotes From Andy Stanley – Live Notes From Orange Conference ’13

I am so glad I work for The Rocket Company!  Our organization has a deep passion to help churches succeed.  Therefore, they have dispatched me to the Orange Conference in Atlanta, Ga to gather leadership lessons and insights to pass on to you.
In this morning’s main session, Andy Stanley destroyed many of our assumptions about how to effectively communicate to students and young people.
After reading these leadership quotes along with others from Reggie Joiner and Ken Coleman, please check out an amazing FREE offer from The Rocket Company on helping pastors preach better sermons.
Reggie Joiner
  • Words matter and what you do every week matters.
Ken Coleman
  • Words are strategically used in questions.
  • Good questions inform.  Great questions transform.
  • By the time we reach the 8th grade, the average person is only asking 2-3 questions a day.
  • Our education system is driving out curiosity.  We’re training them to answer questions.
  • Great leaders are always asking questions.
  • The most successful people are continually asking questions.
  • We can become so obsessed with what’s next that we miss the now.  And by missing the now, we often miss what’s next.
  • At some point life happens.
Andy Stanley
  • We have for generations, Evangelicals perceived ourselves as being the majority.  Anytime that happens, they speak with an element of authority whether they have that authority or not.
  • We’re not the majority anymore…We keep talking like we’re the majority and we look foolish.
  • In the first century they knew they weren’t the majority.  They were lion food.
  • Once upon a time a handful of people believe Jesus raised from the dead.  2000 years later a third of world believes that.  It’s going to be OK.
  • Whenever you’re in the majority, you outreach your authority.
  • Approach determines people’s response to what we have to say.
  • We must adapt our approaches to connect with our target audiences.
  • How do you win as many as people as possible?  I change my approach.
  • My goal isn’t to be right.  My goal isn’t to make a point.  My goal is to win those under the law.
  • My goal isn’t for people who agree with me to agree with me.
  • I adjust my approach depending on my audience.
  • There is a goal and an approach.  When you prioritize the approach over the goal, you’re out of business.
  • You have inherited an approach that assumes consensus among biblical authority.
  • Engaging people with the text has more to do with your approach than the scripture.
  • We live in a world that does not view the scriptures and Bible the same way you do.
  • Anytime you choose a passage and stay there, this is a win in a biblically illiterate culture.
  • A Bible “story” is a terrible word.  It’s better than a story.  We think it actually happened.  It’s not a story.  It’s history.
  • Bring your energy to the text.
  • Nobody reads anything because it’s inspired.  You read things because you want to read it and discover it’s true.
  • Give people permission not to believe or obey the scriptures.  I Cor 5:12-13  When you give the permission not to believe or obey, they are more likely to believe or obey.
  •  When you give non-Christians an out, they begin to lean in.
  • The attraction of the church is looking at all of those one-anothers one-anothering one-another.  They will want to be a part of that.
  • The attraction of the early church was looking at how they love one another.
  • We don’t believe Jesus is the Son of God because the Scripture is inerrant.  We believe Jesus is the Son of God because Jesus rose from the dead.
  • The foundation of our faith is not the Bible.  The foundation of our faith is an event in history.
  • We’ve got to teach in a way that always ties things back to Jesus.
  • Our approach that we’ve used has set our children up for disaster in college.
  • The foundation of your faith is historical Adam and Eve.  The foundation of your faith is that people who expected to find a body did not find a body.
  • Don’t refer to the Bible as a book.  The Bible’s not a book.  It’s way better than a book.
  • Cite authors, not the Bible.
  • Every single you say something about the author you tie that author to history.
  • We shouldn’t expect rationale people to think Jesus raised from the dead because the Bible says so.
  • Don’t ever use the phrase biblical marriage again ever.  Can you even think of a good biblical marriage?  Use the term Christian marriage…Just go home for a day, you don’t even need to believe this, and submit to one another.
  • I submit to Sandra out of reverence of what Jesus did for me.
  • Acknowledge the odd as odd.  There are some odd things in the Bible.  Don’t be afraid of that.
  • You believe the Old Testament is true because Jesus believed the Old Testament is true.
  • Don’t create the impression that one must choose between faith and science.
  • Science is the search for natural explanations.
  • Just say, “Oh, so that’s how God did it.”
  • We want people to find natural causes.  We want people to find out the reasons why things work the way they work.
  • It is my judgment, therefore, that we should not make it difficult for the Gentiles who are turning to God. – Acts 15:18 NIV

Friday, February 27, 2009

EAGLES NEST MINISTRIES 2009


EAGLES NEST MINISTRIES 2009

Memasuki tahun ke dua kami di Bandung merupakan sukacita kami bisa ada di kota ini. Banyak perkara dan hal yang diizinkan Tuhan untuk kami kerjakan disini melalui caraNYA. Acap kali kami hendak melakukan sebuah pekerjaan dengan kemampuan atau pengalaman kami di masa lalu. Tuhan menegur kami dan membimbing kami, untuk sungguh-sungguh melakukan apa yang Bapa sedang kerjakan, menyatakan apa yang Bapa nyatakan.

Dua tahun terakhir ini dengan dana terbatas yang ada kami mengontrak dua buah kamar tempat kost untuk menjadi tempat tinggal sekaligus “kantor” pelayanan kami. Satu kamar sebagai kamar tidur dan sebuah lagi sebagai ruang kerja sekaligus ruang tamu (kadang kami alih fungsikan bagi tamu dari luar kota maupun luar negeri yang mau menginap di istana kami).

Dalam keterbatasan sekalipun kami melihat penyertaan Tuhan, dikala keuangan menjadi kendala pelayanan. Tuhan selalu memiliki dan membuka jalan bagi anak-anakNya yang mencari Dia dalam ketulusan. Kala orang lain tengah frustasi dan mengeluh kekurangan dana untuk mengembangkan pelayanan, kami yang sama sekali tidak memiliki fasilitas memulai pelayanan sebagai penulis lepas dari beberapa media Kristen yang ada secara “cuma-cuma”. Kami hanya menabur saja benih Firman Tuhan tanpa pamrih. Ketika kami coba membina hubungan dengan beberapa anggota tubuh Kristus untuk berjejaring dan bekerjasama kami seolah membentur tembok penolakan. No hard feelings, kami menyadari terkadang “kehidupan pelayanan atau gereja” dewasa ini “kurang sehat”. Gereja atau pelayanan menjadi seolah “perusahaan rohani” hingga menggunakan sistem franchise, sistem merger atau bahkan diambil alih oleh “organisasi gereja yang lebih besar”. Ketika di suatu daerah sudah ada “gereja A”, biasanya ada saja “gereja lain” masuk ke wilayah tersebut. Seandainya masuk ke wilayah yang sama dan menjangkau jiwa-jiwa belum percaya atau belum bergereja nampaknya bukanlah suatu cela. Namun bila masuk ke sana dan lalu menyedot jemaat dari “gereja A” maka ini merupakan cela dalam pelayanan gereja. Kita seharusnya saling membangun dan menolong bukan menjatuhkan seperti itu. Kita melayani Tuhan demi kepentingan KerajaanNya...demi kepentingan GerejaNya...bukan kerajaan dan gereja kita.
Hingga saat kita dengan tulus ingin membangun jaringan pelayanan dalam satu kesatuan sebagai tubuh Kristus, kita dipandang sebagai kompetitor baru. Harap dicatat maksud dan tujuan kami disini bukanlah hendak mempersatukan semua gereja dan pelayanan dalam “satu atap organisasi”. Kami rindu semua organisasi gereja dan pelayanan dapat berjejaring untuk tujuan ilahi, karena kita satu tubuh dan Tuhan Yesus sajalah Kepala kita.
Saya dapat berkata begitu sebab dulu saya pernah ada dalam pola pikir yang sama. Saat saya menggembalakan jemaat di Surabaya, yang ada dalam benak saya adalah bagaimana “gereja saya” bisa berkembang dan memiliki pengikut yang makin bertumbuh & banyak jumlahnya. Jangan sampai jemaat saya pindah gereja lain sebab itu dapat merugikan income kami. Kebanggaan saya sebagai “pendeta” kala itu adalah seberapa besar jumlah jemaat saya, berapa besar gedung gereja saya, berapa cabang gereja saya, berapa banyak kelompok kecil saya yang bertumbuh dan bertambah , berapa pemimpin baru yang saya hasilkan, berapa petobat baru yang kami hasilkan, dstnya..dstnya. Pusatnya adalah saya, gereja saya.
Di kala gereja kami kala itu mencapai titik jenuh dan mulai tidak bertumbuh atau bertambah, dan “gereja-gereja lain” mulai buka cabang di sekitar kami. Maka saya pun berdoa untuk “kebangunan/kebangkitan rohani”, motivasi saya sebenarnya adalah agar “gereja saya” bertambah jumlah anggotanya dan “saya” menjadi tokoh kebangunan rohani itu. Semua saya lakukan karena merasa pelayanan gereja sudah mulai “macet” dan sekarang ada kompetitor yang siap merebut “jemaat kami” masuk ke dalam “gereja mereka”.Jadi bukan sekedar ingin melihat orang percaya bertumbuh dalam Tuhan namun ingin “punya nama dan pelayanan besar”. Dulu saya katakan untuk “kemuliaan Tuhan”, namun sadar atau tidak, dalam hati yang terdalam harus diakui itu semua untuk “kebanggaan diri sendiri”. Keinginan diakui sebagai pendeta yang berhasil.
Hingga suatu hari saya tertempelak saat tengah berdoa bahwa seharusnya saya membangun “Gereja Tuhan”, bukan gereja saya. Yesus-lah Gembala yang baik dan agung, saya hanyalah hambaNya yang membantu menggembalakan umatNya semakin mengenal pribadiNya. Mengapa saya mendoakan agar terjadi “kebangunan/kebangkitan rohani”? Bila Yesus adalah pokok anggur dan kita carangnya, seharusnya kita senantiasa hidup di dalam Dia (Yohanes 15). Kalau gereja yang saya gembalakan “mati”, jangan-jangan karena itu “gereja saya” dan bukannya “Gereja Tuhan” yang seharusnya senantiasa melekat dengan Kristus Yesus.

Dalam keterbatasan dana yang ada, kami berdoa apa yang harus dan dapat kami kerjakan. Sebagaimana anak kecil yang membawa 5 roti jelai dan 2 ikan pada Tuhan Yesus untuk memberi makan 5000 orang (Yoh 6:1-15), begitu pula kami dengan jumlah uang yang mungkin bagi sementara orang tidak ada artinya, datang padaNya. Lalu Tuhan ingatkan bahwa Ia sanggup memberi makan 5000 orang dengan melipatgandakan apa yang kami miliki. Akhirnya Tuhan membimbing kami melayani melalui dunia maya. Kami sempat menggunakan koneksi “W” untuk akses internet di rumah namun kadang terkendala dengan sambungan internet yang lambat. Hingga akhirnya kami menggunakan jasa warnet untuk memperlebar Kerajaan Tuhan dan memuridkan bangsa-bangsa.
Saat kami pertama kali melakukan pelayanan dunia maya, kami ini ditertawakan dan dicibir, namun saat pelayanan kami mulai berkembang, “seperti biasa” mendadak semua melakukan hal yang sama.
Bagi kami melihat kejadian tersebut satu kata yang keluar dari mulut kami, Haleluya, akhirnya ada lebih banyak orang digerakkan Tuhan untuk melakukan penjangkauan, penginjilan, pengajaran, sekolah Alkitab, memperlengkapi umat Tuhan dan masih banyak hal lagi melalui dunia maya.

Kami bersyukur melalui salah satu website pertemanan Facebook, kami dapat terhubung kembali dengan banyak teman-teman lama (SMPK Bahureksa, SMAK Dago, STBA Yapari, INTEL, geng Moonraker,dll), rekan-rekan seperjuangan dalam pelayanan (Cornelius Wing, Jonathan Pattiasina, Samuel Saputra, Franky Sihombing, Melanie Pedro, Roger Thoman, Jammie Bakker, Shelley Lubben, Morria Nickels, Frank Viola, Neil Cole, Robert Ricchiardelli dll) , anak-anak rohaniku maupun teman-teman baru bahkan keluarga besarku. Luar biasa sekali!

Puji Tuhan, bahwa salah satu pelayanan kami, Eagles Nest Online Bible School yang sederhana dapat berkembang dalam hitungan bulan kini bukan hanya diikuti oleh saudara-saudara seiman di Indonesia namun juga Singapura. Ini merupakan hal yang luar biasa bagi kami. Sungguh Tuhan menguatkan kami, sebab kala kami memulai Sekolah Alkitab gratis ini, orang-orang pun terheran-heran. Mengapa kamu tidak menarik biaya para siswa/murid yang mau belajar? Alasan kami sebab Tuhan Yesus tidak pernah menagih uang sekolah dari para muridNya. Maka saya pun tidak akan menagih biaya apa-apa, kecuali para murid digerakkan oleh Tuhan dan ingin memberi dengan sukacita. Bagi kami yang terpenting adalah mereka yang menjadi siswa, mempelajari, menghidupi kebenaran dan memuridkan orang lain lagi. Sekolah ini bukan tentang mencari uang tetapi mencari Tuhan. Bila pun ada orang yang mengambil bahan ini secara cuma—cuma bagi kelompok kecilnya atau pemuridan di organisasi gerejanya atau untuk dipelajari sendiri,asalkan orang tersebut bertumbuh dan makin cinta Tuhan. Maka tugas kami sebagai pendidik dan pengajar berhasil. (Catatan: Ini merupakan “keyakinan” kami, jadi bila Sekolah Alkitab atau STT anda menarik biaya tidak ada tujuan kami sedikitpun “menyerang” lembaga anda. God bless you)

Kini kami tengah berdoa untuk sebuah tempat/rumah yang cukup besar untuk kami gunakan sebagai tempat untuk menjadi pusat studi dan pembelajaran yang kami beri nama PUSAT PEMBELAJARAN & PENGEMBANGAN KOMUNITAS (P3K) atau COMMUNITY STUDIES & DEVELOPMENT CENTER (CSDC). Kami telah memiliki sekitar 1000 judul buku rohani, puluhan buku sekuler dari berbagai latar belakang ilmu, beberapa ratus judul kaset/CD/VCD khotbah & pengajaran dimana kami hendak membuat perpustakaan bagi tubuh Kristus hingga kita semua dapat belajar untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Sebenarnya ini merupakan koleksi pribadi yang saya sangat sayangi namun apa artinya bila semua buku itu hanya disimpan di lemari, lebih baik dibuka bagi mereka yang mau belajar dan bertumbuh dalam Tuhan untuk menjadi dampak bagi sekitarnya.

Kami juga rindu untuk mengadakan lebih banyak pelatihan untuk memperlengkapi tubuh Kristus secara interdenominasi tanpa memandang asal muasal denominasinya. Kami rindu untuk memperlengkapi setiap orang kudus untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Dunia ini membutuhkan kita sebagai “garam dan terang di muka bumi ini”. Hati kami rindu melihat orang percaya tidak hanya “jago kandang”, nampak luar biasa di dalam gedung gereja namun saat di luar “melempem” (tidak ada dampaknya).
Selama hampir dua tahun ini, kami memperlengkapi “orang kudus” di tempat umum (cafe, rumah makan, warung lesehan, rumah orang yang kami layani, bahkan di pinggir jalan) atau di salah satu kamar yang kami sewa. Kami belum memiliki dana untuk menyewa tempat khusus atau membeli rumah, namun satu perkara yang indah adalah Tuhan ada di tengah kami. Kami tidak ingin dibatasi oleh fasilitas yang belum kami miliki dan membatasi Roh Kudus untuk bekerja di tengah kami.

Dari pelayanan The Body Building (Pelayanan jejaring kami). Puji Tuhan, pada bulan April dan Mei ini kami akan mengadakan camp Father Heart and Sonship bersama pelayanan Zoe Ministries Malaysia, yang dipimpin Pr Christopher K. Camp ini akan diadakan di dua kota yaitu Surabaya dan Bandung. Selebihnya kami akan melayani bersama beliau di Probolinggo dan Jember di beberapa organisasi gereja yang membuka diri. Apa yang orang pandang tidak mungkin, menjadi selalu mungkin bila Tuhan yang telah menetapkan.

Beberapa rekan lain, seperti Robert Fitts (Uncle Bob) dari Outreach Fellowship International dan Roger Thoman dari Appleseed Ministries juga merencanakan untuk datang ke Indonesia untuk melihat apa yang Tuhan kehendaki untuk mereka kerjakan atau bantu untuk Indonesia. Kami mungkin tidak punya apa-apa namun kami ini “milik” Tuhan yang memiliki segala sesuatu. Bersama kedua rekan senior saya di atas kami tengah berdoa agar gereja dapat berdampak dalam masyarakat bukan hanya sekedar secara rohani namun juga secara holistik. Meski mereka mengenal Kristus Yesus sebagai Tuhan mereka. Namun bila kita tidak menolong mereka untuk pulih secara kejiwaan dan secara finansial bangkit, maka kita akan melihat jiwa-jiwa ini hidup dalam kebiasaan lama mereka.
Beberapa tahun lalu, kami banyak memenangkan jiwa atas kasih karunia Roh Kudus dan sesekali memberikan bantuan sembako atau pengobatan gratis secara periodik. Petama-tama, kami puas melihat jiwa-jiwa diselamatkan dan kami dapat “melakukan perbuatan baik” dengan memberikan sumbangan dalam bentuk sembako maupun medis. Namun bila kami melihat dari dekat, tidak banyak perubahan yang signifikan secara holistik, kadang mereka berkompromi lagi dengan pola dunia atau cara hidup yang lama akibat kesulitan hidup. Mereka tidak hanya butuh hal rohani, mereka juga butuh pemenuhan kebutuhan kejiwaan maupun jasmani.
Mereka yang sempat kami layani adalah mantan pengedar narkoba, bandar judi, pelacur, anak geng/mafia, paranormal, kasus curanmor, anak jalanan, petani miskin, mantan napi dan yang sejenisnya.
Sebab kami kala itu sebagai gereja Tuhan, hanya tertarik pada “jumlah yang diselamatkan” lalu meninggalkan mereka. Persis seperti orangtua yang tidak bertanggungjawab, setelah melahirkan seorang anak ditinggalkan begitu saja, hanya sesekali ditengok itupun kalau tidak lupa. Saya sangat menyesali kebodohan saya kala itu sebagai seorang pemimpin dan “ayah rohani”.
Untuk kesekian kalinya Tuhan menegur kami, hingga paradigma pelayanan kami berubah dan kini kami mau melayani secara lengkap, sebuah pelayanan holistik yang menyentuh rohani, kejiwaan dan jasmani mereka. Kini kami melihat jiwa-jiwa ini sebagai pribadi yang unik. Kami tidak mau lagi melihat mereka sebagai sekedar jumlah bilangan atau proyek pelayanan.Bukan masalah berapa banyak jiwa, namun berapa orang yang dapat kami bimbing dan bawa terus bertumbuh dalam Tuhan hingga ia dapat menjadi terang dan garam bagi rekan-rekannya “di masa lalu”. Kini kami fokus di dalam memuridkan mereka yang telah mengenal Kristus Yesus secara holistik.

Bagi sementara orang, yang seperti biasa menjadi “pengamat rohani”, kami ini nekat katanya. Memang tipis nampaknya antara hidup nekat dan beriman pada Tuhan bagi sebagian orang. Dalam ketiadaan dana dan donatur sekalipun, kami tetap mau taat padaNya. Entah ada yang memback-up kami atau tidak, kami tidak ambil pusing. Kami melihat pelayanan ini sebagai bagian hidup kami dan bukan pekerjaan apalagi mesin untuk menghasilkan uang. Ini adalah visi dan misi keluarga kami. Ketika ada orang-orang yang mau berjuang bersama kami, puji Tuhan, sekalipun tidak ada, tidak masalah sebab Tuhan beserta kami, Ia adalah Immanuel. No hard feelings, Brothers and Sisters. Kita sama-sama membangun tubuh Kristus. Kita mau taat untuk mengerjakan bagian kita dalam arahan Dia. Kami sudah belajar makna hidup dalam kelimpahan maupun kekurangan, kami belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal. Kami belajar untuk melihat segala sesuatu dari perspektif Tuhan, melihat situasi seberat apa pun secara positif. Sebagai sebuah kesempatan dimana Tuhan ingin membentuk karakter kami makin segambar dengan Kristus.

Sebuah lembaga gereja dan pelayanan bernama United Christian Faith Ministries (UCFM) dari Amerika Serikat pun menahbiskan saya, Dave Broos, sebagai UCFM ordained minister mereka untuk wilayah regional 11 Asia pada tanggal 22 Februari 2009 lalu. Ini juga di luar dugaan bahwa pelayanan kami mendapat apresiasi dan pengakuan dari rekan-rekan di sana. Puji Tuhan, kini kami bisa berjejaring dengan rekan tubuh Kristus lebih luas lagi dan kami bersukacita atas hal tersebut. Maz 133.

Kini yayasan yang dahulu kami dirikan di Surabaya, Yayasan Pelayanan Cinta Kasih Bangsa (YPCKB), pada November 1998 rupanya dikembalikan kembali untuk dikelola oleh kami. Kami sempat mengundurkan diri dari yayasan tersebut pada tahun 2005 akibat terjadi apa yang saya sebut sebagai “politik dalam pelayanan”. Kini kami tengah berembuk dengan beberapa rekan sekerja di Surabaya dan anak-anak rohani kami di sana bagaimana solusi terbaiknya. Kerinduan kami yayasan ini dapat menjadi alat Tuhan kembali setelah sempat “mati suri” sepeninggal kami kala itu. Tolong dukung doa agar permasalahan pajak yang sempat terbengkalai beberapa tahun terakhir ini dapat diselesaikan dengan baik. Dukung doa agar rekan saya, Onggo Susilo, yang saya percayakan untuk mengambil kemudi yayasan ini di Surabaya dapat secara optimal menjadi terang berkat di sana.

Pada bulan April ini pun , kami akan mengadakan pelayanan bersama badan missi Open Doors. Kami melayani bersama OD, sebab kerinduan hati kami sama untuk melihat Amanat Agung terjadi di muka bumi dan kita sebagai satu tubuh Kristus bekerja bersama-sama menanggung beban terutama bagi anggota tubuh/gereja yang teraniaya. Sebagai salah seorang volunteer OD di Bandung, kami sangat gembira dapat berjejaring dan bekerjasama memperluas Kerajaan Tuhan. Kami berdoa agar organisasi gereja di Bandung mau membuka diri dan perduli terhadap gereja Tuhan teraniaya di muka bumi ini.

Dukung doa juga untuk istri saya, Novie, yang saat ini tengah menjabat ketua PA Haleluya (Persekutuan para orangtua murid di Lembaga Pendidikan Baptis Bandung). Agar perubahan yang Tuhan kehendaki dan regenerasi dapat terjadi dalam persekutuan ini. Ada banyak tantangan dari muka lama yang tidak menyukai perubahan-perubahan. Ini sudah bagian sejarah kekristenan dimana mereka yang dulu merupakan bagian movement (kegerakan) kemudian membuat monument (monumen). Hingga saat Tuhan ingin membuat pergerakan lagi, ia tidak mau bergerak sebab sudah mapan. Ketika Tuhan memakai orang lain (apalagi yang lebih muda), tanpa sadar mereka menganiaya orang yang mau mentaati Tuhan tersebut. Mengapa? Orang yang merasa dirinya “pendiri” kadang terusik dikala ada seorang baru yang menarik perhatian “massa”nya. Persis seperti Orang Farisi terusik dengan pelayanan Tuhan Yesus. Kita sebagai anak-anakNya pasti akan mangalami hal seperti itu juga. (Yoh 15:20)

Simple Church Network, pun telah mengadakan pertemuan di rumah-rumah atau kadang juga di tempat umum. Suatu kumpulan murid yang belajar bersama-sama, berdiskusi, membicarakan permasalahan dalam kehidupan, saling menasehati, membantu dan berdoa. Ada banyak orang yang enggan ke gereja (karena berbagai alasan) maka kami membawa gereja ke tengah mereka. Kami coba belajar menghidupi pola gereja mula-mula yang ada dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 dan Matius 18:20. Kadang kami hanya melayani satu jiwa, kadang satu keluarga, kadang satu kelompok, kadang satu komunitas besar, intinya kami tidak perduli berapa banyak yang kami layani. Lebih baik melayani satu jiwa yang sungguh-sungguh haus dan lapar akan Tuhan (ingin menjadi murid Kristus) daripada satu gereja atau komunitas besar yang hanya suka khotbah “ice cream” dan berdoa “give me..give me, blessed me blessed me”.


THE EAGLES NEST MINISTRIES:


THE BROOS FAMILY